27 November 2016

Bullet Journal: December Setup

Waw, Tak terasa sebentar lagi November berakhir dan sudah waktunya bagi saya untuk membuat halaman-halaman baru bullet journal edisi Desember. Yeah, fortunately, I did it a week ago.


Pada postingan saya sebelumnya di lapak ini, saya sudah bercerita sekelumit tentang Bullet Journal. Jadi, saya tidak akan terlalu banyak menyampah tentang pengertian atau pengantar atau blablabla tentang hal itu lagi. Hal yang paling menyenangkan dalam bullet journal adalah kita bisa menentukan aturan dan metode kita sendiri.

Bullet journal adalah semacam planner analog. Kita menggunakan jurnal kosong dan pulpen untuk mengisinya. Planner digital dalam bentuk aplikasi ponsel memang sudah menjamur di mana-mana, tapi saya pribadi lebih memilih bisa menuliskannya sendiri, memaksa jari-jemari untuk berolahraga. Lagi pula, aroma kertas lebih spesial daripada aroma ponsel, jadi yah... that's it.

Oke, jadi inilah setup bullet jounal saya untuk bulan ini. Mari kita mulai~



dya ragil

26 November 2016

[Review] Novel: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH
Halaman: 208 halaman, paperback
ISBN: 9876027572

Sinopsis:
Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru:
Hai…. Nama saya Athaya. Seorang web designer. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish; suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku. Saya sedang cari pacar, eh calon suami. Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya. Oh ya, umur saya 27 tahun. Sekarang kamu ngerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini? Yes, I’m absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng—

Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk jeda beberapa meja darinya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan orang, dan straight.
Athaya menghela napas, menyesap kopinya, dan meng-klik tombol: Publish! 


Review: 



dya ragil

17 November 2016

Newt Scamander, Kertas Baru, dan Tiramisu Bliss

Hari ini petualangan saya begitu singkat. Begitu saya tahu dosen yang ingin saya temui tidak ada di kampus, saya sesegera mungkin melarikan diri ke Jogja City Mall, sampai di sana pukul 11.00 wib, tepat waktu untuk mengantri tiket Fantastic Beasts and Where to Find Them kloter pertama.


Saya tidak menonton Fantastic Beasts dalam mode 2D, jadi saya tidak tahu seperti apa. Namun saya benar-benar merekomendasikan mode 3D untuk siapa pun yang ingin menontonnya. Dengan CGI yang se-wow itu, rasanya sia-sia kalau tidak ditonton dalam mode 3D. Well, kalau saya boleh bilang, saya agak salah langkah dalam menjadwalkan menonton film bulan ini. Di awal bulan, saya telanjur menonton Dr. Strange yang saya kasih rating 11/10, berkat CGI wow dan akting Benedict Cumberbatch yang epic win. Meskipun CGI-nya juga wow dan akting Eddie Redmayne yang sukses memukau saya, Fantastic Beasts masih berada satu langkah di belakang Dr. Strange. Saya kasih rating 9,5/10 untuk Fantastic Beasts.



dya ragil

15 November 2016

[Review] Novel: Pay It Forward



Penulis: Emma Grace
ISBN13: 9786020315010
Halaman: 256 halaman, paperback

Sinopsis:
Tedjas

Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?
Gitta
Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik!
Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?


Review:

Oke, mulai dari mana, ya?
 
Saya nggak akan membahas ceritanya, karena sudah banyak dibahas reviewer lain. Jadi langsung saja deh.



dya ragil

12 November 2016

Fiksinfo #5 ~ Kebiasaan Baik untuk Seorang Penulis

Sebuah ide cerita mendadak memenuhi otak dan jari-jemari begitu gatal ingin menuliskannya. Namun, pada suatu titik, kamu berhenti menulis. Entah karena kebingungan mengolah ide yang begitu banyak dan mengalir deras, entah karena malas, entah kehilangan motivasi, atau bahkan terkena writer's block.

Semua penulis pernah mengalaminya. Namun hanya yang bisa konsisten dengan kegiatan menulisnya-lah yang bisa bertahan. Menjadi penulis itu tidak dibutuhkan bakat. Hanya satu hal yang dibutuhkan: kemauan keras, baik untuk menyelesaikan naskah maupun untuk terus belajar dari kesalahan. Jujur saja, saya tidak pernah punya sesuatu yang bernama "bakat". Saya hanya orang sains yang keranjingan dengan artikel-artikel kepenulisan di internet dan terperosok dalam hobi menulis. Dan Alhamdulillah, dua naskah yang sudah selesai cukup beruntung untuk bisa terbit. Itu saja.

Nah, itulah masalahnya. Untuk bisa terbit, sebuah naskah harus sudah selesai. Namun, tidak sedikit yang terhenti di tengah jalan. Karena itu, ada sedikit saran yang mungkin bisa membantu kamu untuk bisa setia dengan naskah kamu sampai kelar, bukannya putus di tengah jalan lalu selingkuh dengan naskah baru. Oke, itu garing. Maafkan urat humor saya yang sudah putus ini. Let's begin.




dya ragil

9 November 2016

[Review] Novel: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Penulis: Dewi Kharisma Michellia
ISBN13: 9789792296402
Paperback, 240 halaman

Sinopsis:

Ada surat panjang yang terlambat sampai.

Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.

*

Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.

Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.

Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.

Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya.

*
 
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
 
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.

Review:



dya ragil

8 November 2016

4 Kesalahan Awal Ketika Pertama Kali Menggeluti Bullet Journal

Well, untuk suatu alasan, saya memanfaatkan Bullet Journal sebagai sarana agar NaNoWriMo saya tetap berada pada jalan yang benar. Pertama-tama, apa itu Bullet Journal (BuJo)?


Menurut Ryder Carroll, pencetus pertama BuJo, pada situs bulletjournal.com, tertulis tagline "the analog system for the digital age". You know-lah, intinya sih BuJo adalah semacam gabungan dari to-do-list dan planner (bisa bulanan, mingguan, atau bahkan harian). Hal yang paling menyenangkan tentang BuJo adalah kita bisa menambahi berbagai hal di sana, seperti tracker (habit tracker, weather tracker, water tracker, chores tracker, dan sebangsanya), buku yang ingin dibaca dalam sebulan, film yang ingin ditonton dalam sebulan, doodling di sana-sini, mendekorasinya dengan washi tape atau fancy tape untuk membuatnya lebih personal. Banyak deh, tergantung kreativitas kita masing-masing. Mau dibikin sesimpel mungkin tanpa banyak warna dan dekorasi dan hanya digunakan sebagai to-do-list dan planner doang juga bisa. Mau digabung dengan diary juga bisa.

Set your own rules

Semuanya tentang BuJo bisa kamu temukan di situs bulletjournal.com, jadi saya tidak akan bicara tentang itu kali ini.

Beberapa kesalahan awal yang saya lakukan saat saya menggunakan BuJo:



dya ragil