28 Februari 2018

Kembali ke Habitat Semula: Ngomik!

Astaganagaterbangmintamakan! Serius, nggak terasa ternyata posting-an terakhir saya di blog ini ada di bulan Juli 2017. Lebih dari setengah tahun yang lalu!

Oh, well. Salah satu resolusi tahun 2018 saya adalah mengisi lagi blog ini dan nggak bikin blog ini jadi rumah kosong penuh sarang laba-laba. So, here we go.

Postingan pertama saya di tahun 2018 ini tentu saja salah satunya adalah mengabarkan tentang novel baru yang akhirnya terbit pada akhir tahun lalu. Sudah lama sih, lebih dari dua bulan yang lalu, tapi apa mau dikata. Karena saya juga baru mengisi blog lagi, ya baru bisa saya update beritanya sekarang. Judulnya Raindrops Serenade, seperti yang dulu saya pernah curcol sedang menggarap naskah tentang musik. Dan terealisasi. Dan selesai. Dan terbit! Syukur Alhamdulillah, pastinya.

Oke, begitulah.

Gitu doang? Iya dong, kan cuma intermezzo.

Oke, sekarang masuk ke bahasan inti. Simpel dan langsung saja: saya kembali ngomik!

Ceritanya, dulu saya beberapa kali mem-posting komik strip saya di Facebook, tapi karena acak dan agak kacau, saya memutuskan untuk merombak ulang dan menggambar komik baru. Judul komik strip yang pernah saya posting itu adalah Skripsweet, kisah mahasiswi calon guru yang sedang menghadapi tugas akhir. Namun akhirnya saya berubah pikiran. Daripada langsung loncat ke urusan Skripsi, ada baiknya saya memulainya dari masa orientasi mahasiswa baru si tokoh utama. Dan terciptalah komik Jurnal Calon Guru.

Rencananya, komik strip Jurnal Calon Guru akan saya posting secara rutin seminggu sekali lewat akun Instagram. Agar nggak mengganggu akun Instagram pribadi saya, akhirnya saya bikin akun baru dong. Dan inilah screenshoot-nya.



Oke, sekian kabar hari ini ya, Gaes.

Salam~



dya ragil

30 Juli 2017

Barangkali Itu yang Disebut Adaptasi

Belakangan ini, saya memikirkan kembali tentang apa yang sebenarnya saya harapkan dari perjalanan menulis saya selama lebih dari sepuluh tahun. Agak memalukan, memang, untuk menyerah terhadap inti diri kita hanya agar mendapatkan sesuatu bernama kepantasan di depan semua orang. Dan itu berlaku dalam banyak hal. Kepenulisan, juga kehidupan.

Barangkali itu yang disebut dengan adaptasi.

Awal saya tertarik pada dunia literasi--maksud saya, benar-benar tertarik dan bukan hanya sebagai penuntas kewajiban mengerjakan tugas Bahasa Indonesia--adalah ketika saya SMA. Dulu saya sangat suka menggambar, sampai pada tahapan dimintai beberapa teman untuk menggambarkan pesanan mereka. Gratis, tentu saja. Zaman segitu mana saya sempat berpikir untuk minta komisi, sih. Lagi pula, saya juga sadar, teman-teman saya tidak punya kemewahan untuk mendapatkan uang saku yang berlebihan, sama seperti saya. Apalagi saya cukup menikmati mengerjakan pesanan-pesanan itu. Senang juga ketika komik absurd yang saya gambar di buku tulis mendapatkan apresiasi mereka. Jadi, no harm done.

Namun, saya lelah, kadang-kadang. Saya sangat suka menggambar, tapi tangan saya tidak didesain untuk melakukan itu non-stop. Jadi, saya menenggelamkan diri di antara tumpukan buku di perpustakaan sekolah. Di sana, saya mulai berkawan dengan sastra-sastra klasik. Mulai berkenalan dengan puisi. Mulai berkisah dalam wujud tulisan tangan.





dya ragil

27 November 2016

Bullet Journal: December Setup

Waw, Tak terasa sebentar lagi November berakhir dan sudah waktunya bagi saya untuk membuat halaman-halaman baru bullet journal edisi Desember. Yeah, fortunately, I did it a week ago.


Pada postingan saya sebelumnya di lapak ini, saya sudah bercerita sekelumit tentang Bullet Journal. Jadi, saya tidak akan terlalu banyak menyampah tentang pengertian atau pengantar atau blablabla tentang hal itu lagi. Hal yang paling menyenangkan dalam bullet journal adalah kita bisa menentukan aturan dan metode kita sendiri.

Bullet journal adalah semacam planner analog. Kita menggunakan jurnal kosong dan pulpen untuk mengisinya. Planner digital dalam bentuk aplikasi ponsel memang sudah menjamur di mana-mana, tapi saya pribadi lebih memilih bisa menuliskannya sendiri, memaksa jari-jemari untuk berolahraga. Lagi pula, aroma kertas lebih spesial daripada aroma ponsel, jadi yah... that's it.

Oke, jadi inilah setup bullet jounal saya untuk bulan ini. Mari kita mulai~



dya ragil

26 November 2016

[Review] Novel: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH
Halaman: 208 halaman, paperback
ISBN: 9876027572

Sinopsis:
Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru:
Hai…. Nama saya Athaya. Seorang web designer. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish; suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku. Saya sedang cari pacar, eh calon suami. Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya. Oh ya, umur saya 27 tahun. Sekarang kamu ngerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini? Yes, I’m absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng—

Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk jeda beberapa meja darinya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan orang, dan straight.
Athaya menghela napas, menyesap kopinya, dan meng-klik tombol: Publish! 


Review: 



dya ragil

17 November 2016

Newt Scamander, Kertas Baru, dan Tiramisu Bliss

Hari ini petualangan saya begitu singkat. Begitu saya tahu dosen yang ingin saya temui tidak ada di kampus, saya sesegera mungkin melarikan diri ke Jogja City Mall, sampai di sana pukul 11.00 wib, tepat waktu untuk mengantri tiket Fantastic Beasts and Where to Find Them kloter pertama.


Saya tidak menonton Fantastic Beasts dalam mode 2D, jadi saya tidak tahu seperti apa. Namun saya benar-benar merekomendasikan mode 3D untuk siapa pun yang ingin menontonnya. Dengan CGI yang se-wow itu, rasanya sia-sia kalau tidak ditonton dalam mode 3D. Well, kalau saya boleh bilang, saya agak salah langkah dalam menjadwalkan menonton film bulan ini. Di awal bulan, saya telanjur menonton Dr. Strange yang saya kasih rating 11/10, berkat CGI wow dan akting Benedict Cumberbatch yang epic win. Meskipun CGI-nya juga wow dan akting Eddie Redmayne yang sukses memukau saya, Fantastic Beasts masih berada satu langkah di belakang Dr. Strange. Saya kasih rating 9,5/10 untuk Fantastic Beasts.



dya ragil

15 November 2016

[Review] Novel: Pay It Forward



Penulis: Emma Grace
ISBN13: 9786020315010
Halaman: 256 halaman, paperback

Sinopsis:
Tedjas

Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?
Gitta
Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik!
Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?


Review:

Oke, mulai dari mana, ya?
 
Saya nggak akan membahas ceritanya, karena sudah banyak dibahas reviewer lain. Jadi langsung saja deh.



dya ragil

12 November 2016

Fiksinfo #5 ~ Kebiasaan Baik untuk Seorang Penulis

Sebuah ide cerita mendadak memenuhi otak dan jari-jemari begitu gatal ingin menuliskannya. Namun, pada suatu titik, kamu berhenti menulis. Entah karena kebingungan mengolah ide yang begitu banyak dan mengalir deras, entah karena malas, entah kehilangan motivasi, atau bahkan terkena writer's block.

Semua penulis pernah mengalaminya. Namun hanya yang bisa konsisten dengan kegiatan menulisnya-lah yang bisa bertahan. Menjadi penulis itu tidak dibutuhkan bakat. Hanya satu hal yang dibutuhkan: kemauan keras, baik untuk menyelesaikan naskah maupun untuk terus belajar dari kesalahan. Jujur saja, saya tidak pernah punya sesuatu yang bernama "bakat". Saya hanya orang sains yang keranjingan dengan artikel-artikel kepenulisan di internet dan terperosok dalam hobi menulis. Dan Alhamdulillah, dua naskah yang sudah selesai cukup beruntung untuk bisa terbit. Itu saja.

Nah, itulah masalahnya. Untuk bisa terbit, sebuah naskah harus sudah selesai. Namun, tidak sedikit yang terhenti di tengah jalan. Karena itu, ada sedikit saran yang mungkin bisa membantu kamu untuk bisa setia dengan naskah kamu sampai kelar, bukannya putus di tengah jalan lalu selingkuh dengan naskah baru. Oke, itu garing. Maafkan urat humor saya yang sudah putus ini. Let's begin.




dya ragil